Balik ke daftar

Project 02 · Mobile App · 2024

One Call App

GroupClassNot shipped

Aplikasi SOS yang nyambungin korban ke relawan dulu, baru ke polisi — Juara 3 beruntun di dua kampus berbeda.

Type
Mobile App
Year
2024
Status
Stuck (no launch) — competing only
Stack
Flutter · ML Voice Detection
🆘
Group Project — Peranku: Riset + ML/Voice Detection — wawancara langsung Relawan Gabungan Semarang, pengembangan AI Voice Detector, dan transisi dari LLM-based ke command-based detection.
Hasilnya
0
2 lomba

Invofest Politeknik Harber Tegal + Fosti Fest UM Surakarta. Project yang sama, dua kampus beda, dua podium beruntun — dan juri dari dua tempat sama-sama mengakui idenya.

Yang aku dapet

Riset lapangan ngasih insight yang nggak bakal kepikiran kalau cuma asumsi. Wawancara langsung sama Relawan Gabungan Semarang ngebongkar plot twist: relawan juga butuh dilindungi, bukan cuma melayani.

Di safety app, satu detik itu mattered. Ide awal pakai LLM buat voice detection ditolak dosen: "keburu orang sakit". Pivot ke command-based detection = lebih cepet, dan bisa jalan di HP kelas menengah.

Pivot cepet bukan tanda kelemahan, tapi tanda tim bisa adapt. Juri ngehargain itu — dan itu kebetulan kebaca di semua aspek produk kami.

Cerita di baliknya

Tahun 2024, Semarang lagi nggak aman. Begal, pembacokan, sampai muncul #SemarangDaruratKreak di mana-mana. Aku dan tim mikir: bikin aplikasi yang nyambungin orang langsung ke polisi atau ambulans. Itu idenya awalnya — simpel, kelihatannya masuk akal.

Sebelum nulis kode, kami riset dulu. Wawancara langsung komunitas Relawan Gabungan Semarang lewat Instagram. Aku kira mereka bakal cerita soal nolong orang, heroik-heroik. Ternyata plot twist-nya datang dari arah yang nggak nyangka: relawan juga takut. Pas viral kreak, mereka jadi sasaran juga — dibacok tanpa pandang bulu. Plus, mereka ngajarin kami hal yang nggak ada di asumsi awal. Relawan selalu patroli, selalu bawa P3K, mereka pernah diminta tolong bukan cuma kecelakaan — pernah juga mengantar pulang orang yang takut sendirian.

Dari situ kami putar arah: relawan harus jadi filter pertama, baru ke instansi. Mereka lebih dekat geografis, bisa P3K duluan, dan bisa nge-validasi apakah ini beneran darurat atau cuma panik biasa. Keputusan produk ini keluar dari riset, bukan dari asumsi.

Aku dan tim bangun aplikasi pakai Flutter — Panic Button dengan tahan 3 detik biar nggak ke-trigger nggak sengaja, AI Voice Detector, GPS realtime dua arah (korban & relawan), chat ke emergency group, sama profile management. Yang paling challenging buat aku pribadi: AI Voice Detector. Versi pertama idenya simpel — masukin voice ke LLM, biar AI yang nentuin darurat atau bukan. Dosen pembimbing negur halus: "keburu orang sakit, inference-nya kelamaan." Kami pivot ke command-based detection: keyword suara tertentu yang langsung trigger alur darurat. Jauh lebih cepet, dan bisa jalan di HP kelas menengah. Waktu itu baru nyadar: di safety app, satu detik itu nyawa.

Hasilnya: Juara 3 di Invofest (Politeknik Harber Tegal), Juara 3 di Fosti Fest (UM Surakarta). Project yang sama, dua kampus beda, dua podium beruntun. Buat kami, itu validasi idenya solid — juri dari dua tempat berbeda sama-sama mengakui. Project-nya sendiri masih prototype, belum sampai launching. Tapi pelajaran dari sini — riset dulu, pivot cepet, satu detik mattered — nempel sampai sekarang.

← Sebelumnya
TaXi — Talk Anxiety
Lanjut →
BTNG — Basic Training for Next Generation
Detail singkat
TypeMobile App
Year2024
StatusStuck (no launch) — competing only
StackFlutter · ML Voice Detection
Tautan & demo